Dia...., gadis
yang sedang aku tunggu pagi ini sama saja sepertimu. Kalau lagi libur, ga ada
acara kemana-mana males banget buat mandi pagi. Dan kamu kalau ditanya pasti
jawabnya ngapain juga orang ga ada yang
ngapelin setelah itu lantas tertawa dan akau cuman bisa nyengir.
Itu
sebabnya akau selalu datang ke rumahmu pagi-pagi tanpa memberitahu, tanpa ada
rencana sebelumnya. Dan ibumu yang lagi ngejemur baju di samping rumah reflek
memanggil Neng ada si Aa tuh datang. Dan
kamu rusuh keluar dengan muka masih seperuh kusut tapi tetap cantik,
ujung-ujungnya ngoceh, kesel tapi tetap menyambutku dengan tersenyum. Itu yang
aku sebut cantik dipagi hari, tanpa ada riasan dan pakaian seadanya serta mata
yang masih mengantuk.
Kue
bolu yang kau buatkan untukku lebih dari separuhnya aku habiskan sendiri.
Padahal aku tidak begitu suka dengan kue bolu. Anduk yang kau berikan padaku
sudah terbelah dua, sobek, rapuh karena sering aku gunakan. Dan sekarang entah
ada dimana sisa dari potongannya.
Bingkai
foto hadia pertamamu sudah tidak ada, diminta kakak perempuanku. Aaaaahhhhhhh
seharusnya itu jadi barang pemberianmu yang paling terjaga. Tapi mungkin itu
sengaja ditakdirkan agar aku bisa melepasmu.
Apa
kabar dengan jam tangannya...? saat pertama kali kau gunakan ditanganmu
ukurannya tidak pas terlalu longgar, aku ini seseorang yang bahkan tidak tahu
ukuran pergelangan tangan kekasihnya. Dan lagi-lagi aku hanya bisa nyengir.
Terahir
kita bertemu Ramadhan lalu ingin sekali aku gendong bayi itu Sahrul putramu......
Tidak usah kawatir rasa itu sudah lama hilang, sudah sejak lama aku tebang. Kau
dan aku hanyalah masa lalu, dan ini hanyalah kisah kita.
Note
ini aku buat begitu saja, daripada bengong tidak jelas menunggu dia yang sedang
mandi. Tertawa, sedih, senang, senyum-senyum, bengong lantas ngetik lagi.
Sepagi ini suasana hatiku sudah begitu merih hingga tak sadar dia sudah berdiri
di sebelah. Dia...., seseorang yang sudah memiliki lebih dari separuh perasaan
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar