Aku sudah sibuk sekali padahal matahari saja masih asik di peraduannya dan masih terlalu dini jika ini disebut pagi. Aku begitu bersemangat, ini hari minggu dan akan jadi hari minggu yang mengasikan.
Jumat
kemarin mamak berjanji mengajakku pergi ke ladang, bukan prsoalan pergi ke
ladangnya yang mengasikkan tapi apa yang akan dilakukan di ladanglah yang
membuatku bersemangat. Mamak selalu mengajariku hal-hal baru, dari apa saja yang
dilihatnya.
Aku
berteriak-teriak rusuk menarik-narik tangan mamak agar segera bergegas. Tunggulah sebenar Danar, mamak harus
memeriksa barang bawaan kita apa sudah lengkap atau belum.
Kami
berjalan beriringan, tetes embun di rerumputan membasahi kaki kami, kabut yang
menyelimuti sekitar perlahan memudar disiram cahanya mentari. Angin lembut
berhembus menyapu wajah, ini pagi yang indah di desa kami.
Kami
tiba di jalan setapak dikanan dan kiri jalan pepohonan kokoh berdiri, daunnya
yang lebat sempurna melindungi kami dari terik matahari yang mulai meninggi.
Satu-dua kali aku melihat ke atas, sinar matahari menembus sela dedaunan yang
tidak begitu lebat cahayanya seakan berkedip ketika daun-daun itu bergerak
tertiup angin indah seperti permata.
Danar perhatikan langkahmu jangan
celingukan tidak jelas seperti itu, kau tidak mau kakimu sampai tersandung batu
atau akar pohon bukan....?
Iya mak.....,
tapi aku tetap clingukan kesana-kemari,
Kami
tiba di ladang sejam kemudian, mamak tidak menyianyiakan waktu dia sudah sibuk
dengan semua rutinitasnya di ladang. Aku memilih duduk dibawah pohon rindang meluruskan
kaki membiarkan angin mengusap seluruh tubuh.
Semenit,
dua menit, sepuluh menit, limabelas menit berlalu tiba-tiba mamak berteriak. Danar apa yang kau lakukan disana kau pikir
mamak ajak kau ke ladang cuman untuk bersantai macam itu....? cepatlah kemari
bantu mamak membersihkan ladang.
Tiba
jam makan siang hal yang paling ditung-tunggu, mamak membuka bekal makanan.
Rasanya makanan siang ini terasa nikmat sekali meskipun lauknya tidak begitu
mewah. Mamak bilang padaku, kau tau Danar
makanan itu akan terasa jauh lebih nikmat ketika kau sudah bekerja keras untuk
mendapatkannya.
Aku
asik menikmati makan siangku sambil memandang sekumpulan pohon pisang di
kejuhan, satu dua ada beberapa pohon yang sudah berbuah bahkan ada beberapa buah
yang sudah matang.
Matahari
sudah condong ke barat, mamak bergagas merapihkan peralatan saatnya untuk
pulang. Sepanjang perjalanan pulang aku tak banyak bertingkah, sudah terlalu
cape bahkan untuk menoleh ke samping sekalipun.
Danar...,
tiba-tiba mamak memanggil.
Iya mak...,
aku menjawab sekedarnya.
Pelajaran apa yang kau dapat hari
ini di ladang....?
Pelajaran....? sedikit
bingung bukankah dari tadi aku membantu mamak di ladang apa hubungannya dengan
pelajaran...?
Jangan kau pikir pelajaran hanya
bisa kau dapat dari sekolah, itu salah. Kau bisa belajar dimanapun termasuk di
ladang.
Baiklah biar mamak yang memberikan
pelajaran pada mu hari ini. Allah begitu
baik pada kita Danar...., begitu banyak nikmat yang kita rasakan, kampung yang
indah in contohnya. Dan kau tahu Danar.... kita bisa belajar banyakhal dari
alam.
Aku
si diam saja tidak menjawab tapi tetap mendengarkan, mamak juga tidak berharap
mendapat jawaban iya tetap asik dengan pelajarannya.
Kau tentu melihat pohon pisang di
ladang tadi Danar....? aaaaaahhhh pisang itu buah yang enak sekali Danar tidak
kalah enak dengan buah-buah yang lain. Pisang juga punya vitamin dan nilai gizi
yang baik buat tubum bukan...? kau tauhu Danar bahkan kita sejak bayi sudah
diberi makan pisang, setelah kita cukup besar barulah kita bisa merasakan
nikmatnya makan nasi. Pisang itu istimewa sekali bukan..?
Tapi bukan itu yang ingin mamak
ajarkan hari ini Danar...., kau tentu tahu pohon pisang ...? ada pelajaran yang
bisa kita ambil dari sebuah pohon pisang.
Pelajaran dan pohon pisang apa
hubungannya.....? aku sedikit bergumam dalam hati.
Apa kau pernah dengar tentang janji
pohon pisang...?
Janji pohon pisang...? aku
sedikit antusias.
Iya..., janji pohon pisang. Apa kau
tahu tidak perduli berapa kali kau menebang batang pohon pisang, kau babat
habis daunnya. Ia akan tumbuh lagi, esok atau mungkin lusa ia akan kembali
menumbuhkan batang-batang baru, daun-daun baru. Tidak peduli kau tebang
sedemikian rupa ia akan tumbuh lagi hinga ia bisa menumbuhkan buah.
Karena itulah janji pohon pisang,
akan tetap hidup sampai tujuannya tercapai. Tak ada kata menyerah sedikitpun.
Saat ia telah berbuah dan kau tebang batangnya maka ia tidak akan tumbuh lagi,
akar-akarnya akan layu dan kemudian mati.
Aku
tidak tahu apa yang dikatakan mamak itu benar atau tidak, aku lebih tertarik
pada kalimat “kita bisa belajar banyak
hal dari alam” Allah sudah begitu baik memberikan kita banyak sekali
nikmat, pemahaman baik contohnya. Jika kita bisa belajar banyak hal dari nikman
tersebut kehidupan ini mungkin akan jauh lebih baik lagi. Rasa empati,
kepedulian, kesetiaan, semangat tidak menyerah, kerja keras dan kejujuran akan
menjadi pondasi menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.
Aku
merenung dalam, dan pada ahirnya aku lebih banyak terdiam disisa perjalanan
pulang.
Rindu
kampung halaman 10 Desember 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar