Selasa, 11 Desember 2012

Kerinduan Terkadang Tak Masuk Akal

         Cepat sekali waktu berlalau, 5 tahun rasanya baru kemarin. Kerinduan terkadang bisa tek masuk akal memang, membuat kita tertawa, termenung bahkan menangis. Aku tak ingat kapan terakhir kali kita berkumpul terlalu banyak kesibukan, terlalu banyak keperluan hingga kita lupa dengan kisah dan kebersamaan kita.

    Untukmu Nia Kurniati, meski kau dan aku belum kenal lama tapi bersamamu selalu menyenangkan. Kau gadis yang menawan, ceria dan seru, terlebih kita punya selera musik yang sama. Selepas kau menikah 4 tahun lalu (maaf aku lupa tanggal pastinya males sekali jika harus membuka catatan lama, entah dimana juga nyelipnya) kita jadi lebih jarang bertemu. Terakhir aku mampir ke rumahmu, jagoanmu sedang tidur dengan pulasnya di kamar. Seru sekali mencubit pipinya yang sempurna menggemaskan.

    Kawan terbaik... Agus Sumpena, dari semuanya kau yang paling sering aku buat repot. Entah telah berapa puluh kali aku menginap di ruahmu, numpang tidur, numpang makan, numpang mandi, begadang semalaman. Terima kasih sudah memperkenalkanku pada kawanmu yang manis itu, aku benar-benar belajar banyak hal darinya.

    Salam buat Emih di rumah, maaf aku selalu merepotkan. Ahhh iya... apa kebar Radit kecilmu...? ngeri sekali luka bakar di tubuhnya itu semoga lekas sembuh, Amin......

    Sahabatku... Riki Kusnadi, diantar kita semua kau yang paling dewasa, berbincang-bincang denganmu selalu menyenangkan membuat hati ini tenang dan damai. Terakhir kita bertemu 4 bulan yang lalau aku kaget saat ibumu menelepon. Dia bilang ingin bertemu kangen katanya sudah 3 tahun aku tidak menyempatkan mampir ke rumahnya. Ahhh..... iya apa kabaar Enci...? berbaik-baiklah, menyatukan dua pemahaman dan pemikiran yang berbeda itu memang sulit banyak-banyaklah bersabar itu jalan terbaik untuk saat ini.

    Entang... meski kita jarang bersama-sama, tapi kita semua punya kenangan tersendiri dengan mu. Aku tak tau banyak tentangmu, aku dengaar kau akan menikah (entah aku yang salah dengar  atau bagaimana) tapi itu kabar baik kawan. Jika memang benar semoga kau berbahagia, Amin......

    Kawan dekatku..... Dida Soemantri. Ahhhhh... kemana saja kau kawan....? hilang sepert ditelan bumi. Bandung – Sumedang itu tak begitu jauh tapi sulit sekali mendapatkan kabarmu, berulang kalia aku mampir ke profilmu di facebook tapi tak ada tanda-tanda keberadaanmu di sana. Kau tahu...? bahkan aku tak punya No telponmu. Dulu kita begitu dekat seperti tak bisa dilepaskan, bersepedah bersama, makan bersama, duduk satu meja dan banyak lagi. Tapi kini entah di mana kau? tapi lepas dari itu semua akau selalu berharap di manapun kau berada semoga selalu baik-baik saja, Amin..

    Apa kabar dengan kuliahmu di Bandung, sudah masuk Semester berapa sekarang? Agus sempat bercerita, terakhir dia bertemu dengan mu saat pesta pernikahannya di Bandung. Kau datang dengan seseorang hey.....siapa seseorang itu kawan? Aku dengar itu calon istrimu apa benar? Ah sepertinya tinggal aku saja yang sempurna sendiri, teman baikmu ini belum juga menemukan pendamping setelah perstiwa yang boleh dibilang menyakitkan itu. Tapi sudahlah itu masa lalu...

    Sahabat tersayang..... Iis Mulyani, apa kabar murid-muridmu di sekolah kawan? kau masih mengajar bukan? Pesanku jadilah guru yang baik, yang mengerti betul arti pendidikan, yang bukan hanya mengajarkan berhitung dan membaca, tapi mengajarkan tentang pemahaman, kehidupan, serta akhlak tidak tercela.

    5 Desember lalu usiamu genap 23 tahun.... tak terasa sudah, waktu datang dan pergi begitu cepat. Secepat  udara menerpa wajah, secepat angin menerbangkan debu, secepat api membakar daun kering, secepat kilat menerangi langit mendung. Selamat ulang tahun kawan, semoga kau selalu ada di bawah perlindunganNya, Amin...

    Kau tau kawan.... aku sempurna terdiam, terpaku, bingung, kecewa, senang, bahagi, sedih, lega, tersenyum, tertawa tetapi untungnya tidak sampai menangis. Ku pikir siapa yang meADD akunku...namanya tak ku kenal, tapi raut wajahnya terasa tak begitu asing, wajah berbalut bedak. Ahhh.... aku tak pernah melihat kau memakai bedak sebelumnya, jadi sedikit terasa asing bagiku.

    Terakhir kita berkomunikasi kau menghilang seperti disapu badai, meninggalkanku disisi sini bengong, terpaku, bingung, kesal, bete dengan telpon yang masih menyala. 3Menit, 5menit, 15menit tetap hanya dengungan terdengar. Aku pikir kau hanya main-main dengan perkataan mu saat itu, nadanya tak meyakinkan benar-benar tak terlintas dipikiranku.

    Aku turut berbahagia atas pernikahanmu... meski separuh dari perasaan ini berkecamuk. Rasa bahagia bercampur dengan perasaan kecewa, sedih, senang, lega dan entahlah. Tapi diluar itu semua aku bersukur, berterimakasih kau telah mengambil keputusan atas hubungan kita. Meski kita sudah sepakat untuk berpisah tapi kita sama-sama tahu bahwa perasaan itu masih ada.

    November lalau genap setahun pernikahanmu, aku sudah jauh bisa menerima, jauh lebih memahami, jauh lebih mengerti. Kau tau sahabatku....? ibumu pernah bertanya.... bagimana sudah dapet penggantimu? Aku hanya menggeleng perlahan, bukan aku tak mencari, bukan pula tak ada penggantimu, atau bukan pula karena perasaan itu masih tersisa. Tapi jauh lebih rumit dari itu.... perasaan itu tetap tumbuh, ada sajah seseorang diluar sana yang membuat hati ini tertarik, terikat, luluh. Tapi akau tak pernah sanggup untuk memupuknya, bukan tak berani, bukan pula tak sanggup, tapi diri ini merasa belum layak, belum saatnya, merasa begitu banyak yang harus diperbaiki, merasa harus lebih banyak belajar. Lantas ku biarkan layu, mati dan ku kubur dalam-dalam perasaan itu.

    Aku.....Imam Nurohim, 3 tahun ini aku sibuk sekali dengan banyak hal, belajar banyak hal, melihat  banyak hal. Mencoba memahami apa itu sebenarnya kehidupan, perasaan dan entah lah..... hingga aku lupa dengan rutinitas kita berkumpul setiap tahun. Sungguh maafkan kawan kalian yang satu ini, Agustus lalau sepulang dari Yogya aku mampir ke rumah Agus.... bahkan menyempatkan menginap semalam. Berbicara banyak hal tentang kita, ada Riki juga disana menyenangkan sekali, tahun depan aku putuskan memberi tanda merah di kalender, lema sudah kita tidak saling menyapa. Selau menyenangkan bersama kalin, aku selalu diterima baik di keluarga kalian, meski mungkin sering menyebalkan, membuat kalin kesal atau apalah sungguh aku tak pernah bermaksud. Hari ini aku sungguh merindukan kalin, dan kerinduan itu memang terkadang tak masuk akal.