Sabtu, 03 November 2012

Generasi tidak memperhatikan


Postingan kali ini saya copy paste dari notenya bang darwis tere-liye  http://www.facebook.com/darwistereliye karena menurut saya note tersebut menarik untuk dipahami dan dimenerti.

Tambah banyak saja, orang2 yg tidak memperhatikan.

Di rapat2, saat peserta rapat sibuk berpikir, membahas banyak hal, ternyata ada yg asyik nyempil main hp, sibuk berkelana di luar ruangan. Ada yg main gagdet, apa saja, tidak memperhatikan.

Di ruang keluarga, saat anak2 balita bicara, orangtuanya sibuk dgn pikiran sendiri, tidak memperhatikan. Apalagi yg diharapkan? Juga saat orangtua mereka bicara, anak-anak lbh sering sibuk dgn dunianya sendiri, tdk memperhatikan.

Di kafe2, teman berkumpul satu sama lain, sudah janjian jauh2 hari, saat bertemu, tetap sj sibuk dgn 'mainan' di tangan. Di tempat bercengkerama, baik sahabat bertemu satu sama lain, tetap sj sibuk dgn 'mainan' di tangan, tidak memperhatikan. Juga pun meski dgn pacar yg katanya tersayang, bukankah justeru tak ada pulsa yg membuat perhatian--karena tdk bisa online lg.

Di dalam mobil, bus, tumplek merapat kawan dekat, keluarga, bukan pembicaraan yg ada, semua sibuk dengan urusan lain di luar kendaraan. Sibuk menyapa dan update posisi. Itu lebih penting bahkan dibanding tidur istirahat.

Di rumah2 ibadah, di depan sibuk ceramah, di sini sibuk dengan dunia lain. Sibuk sekali, bahkan ibadah ke Tuhan pun harus disisihkan karena harus online. Juga di kelas, kursus, dan hal2 yang jelas tidak penting2 amat dibanding menghadap Tuhan.

Dulu, orang bicara, masuk kuping kiri keluar kuping kanan, wajah plongo memperhatikan. Sekarang, orang bicara, masuk kuping kiri keluar kuping kanan, wajah sok memperhatikan, tangan sibuk bekerja. Seberapa besar teknologi telah menelan kebiasaan baik kita? Pesawat baru sj menjejak runaway, mendarat, kita bergegas menghidupkan hp, seolah menunggu telepon dr presiden, atau perlu mengupdate status, seolah artis dgn 18 juta follower. Kita sibuk sekali dgn dunia baru itu. sampai lupa bertanya, lantas apa yg sebenarnya 'dunia baru' itu telah berikan kpd kita?

Tabiat baru muncul seiring dengan kebiasaan ini. Orang2 latah berkomentar padahal belum membaca secara lengkap. Orang2 dengan cepat menyambar padahal mengerti pun tidak dengan konteks pembicaraan. Tidak ada lagi yang memperhatikan detail, semua sibuk dengan pikiran masing2, asumsi masing2, dan dengan cepat bergegas berseru. Tidak memperhatikan, tapi ingin diperhatikan. Selamat datang generasi 'tidak memperhatikan'. Maka bersiaplah dgn resikonya, jika kita juga tdk diperhatikan orang lain saat bicara dan butuh diperhatikan.

Teknologi telah bersisian dengan manusia, dan boleh jadi siap menelan 'kemanusiaan' kita.