Malam ini Hujan dan Rinai lebih banyak diamnya, seperti dua orang yang tidak saling mengenal saja. Tak ada senyum, tak ada canda, tak ada tawa hanya berbincang sekedarnya. Sore tadi Hujan memberanikan diri menghubungi Rinai, sudah tiga minggu mereka tidak jalan dan ngobrol berdua. Bahkan dua minngu terakhir Rinai tak kelihatan batang hidungnya di kampus, entah memang tak masuk atau sengaja menghindar. Hand phonenya selalu saja tidak aktif, sibuk dan sekalipun tersambung tak pernah ada yang mengangkat, jangan tanya soal sms, Hujan bahkan sampai membanting hand phonenya ke ranjang ke ranjang karena kesal menunggu balasan dri Rinai yang tak kunjung datang.
Sepulangnaya darai Pontianak Rinai lebih banyak diam. Entah apa yang terjadi, bahkan ia tak memperdulikan sapaan Hujan saat dijemput di bandara, hanya membalas pertanyaan Hujan dengan senyuman getir. Rinai dan keceriannya yang dulu seperti tertinggal di sana, yang sekarang duduk didepan Hujan hanyalah jasadnya saja yang sedingin balok es.
Kau kenapa...?
Hujan memberanikan diri bertanya memecahkan kesunyian. Sayangnya disituasi saat ini, itu pertanyan yang salah bagi Rinai, ia tetap tak bergeming dari diamnya lebih tertarik mengaduk-aduk sisa es batu di gelasnya.
Hujan menarik napas kecewa, urusan ini tidak pernah jelas jika tetap seperti ini. Tahukah kau Rinai...? sebulan terakhir ini Abang merasa tak enak hati dengan hubungan kita, haaahhhh entahlah Abang juga tak tahu pasti apa penyebabnya mungkin kau tahu...?
Hujan tak menyerah kembali bertanya, kali ini dengan nada yang lebih santai, ia menyandarkan tubuhnya di kursi lantas menengadahkan kepala, berharap mendapatkan jawaban di langit-langit.
Dua minggu terakhir ini Abang tak melihatmu di kampus, Abang pikir kau sakit tapi Tania bilang kau ada bahka semangat betul mengerjakan tugas dari Bu Nora. Sore tadi Abang beruntung kau sendiri yang menjawab telpon rumah, hp-mu susah sekali dihubungi eantah hp-mu yang rusak atau sinyalnya yang bermasalah.
Hujan sedikit tersenyum mencoba mencairkan suasana, sayangnya senyumannya kali ini lebih mirip seringai kuda.
Bagaimana liburanmu di Pontianak? Mamahmu bilang kau ketagihan bolak balik naik sepit menyebrangi kapuas. Besok-besok kau harus ajak Abang ke sana, Abang juga ingin tahu semegah apa Istana Kadariah itu.
Panjang lebar Hujan berbicara malam ini tetapi tak ada satu katapun yang membuat Rinai bergeming dari diamnya, ia tetap asaik dengan es di gelasnya. Hujan benar-benar seperti berbicara dengn balok es.
Jam di dinding berdenting sembilan kali, di luar angin bertiup perlahan malam berubah semakin dingin. Hujan sudah menghabiskan 2 gelas es jeruk, 2 piring roti susu, dan satu kotak tisu. Tapi benar-benar tak ada tanda-tanda kejelasan atas pertemuan malam ini.
Hujan lamat-lamat memandang mata Rinai, tak ada apa-apa di sana benar-benar tak ada apa-apa kosong tak ada cahaya, tak ada keceriaan. Tiba-tiba Rinai berdiri dari duduknya lantas meraih tas yang ia letakan di sebelahnya, entah apa yang ada di pikiran Rinai saat itu, tak ada keraguan sedikitpun tercermin dari kalimatnya, seperti benar-benar keluar dari lubuk hati terdalam meski perlahan tapi terdengar jelas oleh Hujan.
Abang maafkan Rinai, tolong jangan hubungi aku lagi, juga tak usah datang ke rumah. Tak usah perdulikan aku lagi, anggaap saja semuanya berakhir di sini maafkan aku Abang....
Benar-benar seperti disambar petir lantas dilemparkan ke luar angkasa, mendarat di pelanet penuh monster dan dikejar-kejar pasukan kecoa, Hujan benar-benar tersentak tak tau apa yang harus dilakukan.
Rinai membalik badannya lantas pergi tanpa merasa harus menjelaskan kalimatnya barusan, sekejap, dua kejap Rinai semakin jauh. Hujan tersadar dari petualangannya di luar angkasa lantas cepat berdiri mengejar Rinai yang semakin menjauh. Hanya tinggal sepuluh senti saja tangan Hujan berhasil menyentuh tangan Rinai tetapi tiba-tiba entah apa yang terjadi seperti ada tembok besar diletakan begitu saja dihadapan Hujan.
Maaf mas tolong dibayar dulu makanannya...
haaaa....?
Hujan tersadar,seorang pelayan cafe menghentikannya tepat di pintu keluar.
Tolong dibayar dulu mas...., pelayan itu mengulang kalimatnya.
Di luar Rinai bergegas menghentikan taxsi, membuka pintu belakang lantas membantingkan tubuhnya di jok belakang...
ke Tebet pak..
iya Neng....
jauh di dalam hatinya Rinai merasa apa yang telah dilakukannya barusan adalah sebuah hal bodoh, tapi ia sendiri bingung kenapa kalimat itu bisa terucap.
Maafkan aku Abang.....!!!