Senin, 22 Oktober 2012
coklat panas
pernahkah kalian tersentuh...maksud saya bukan tersentuh secara fisik tapi tersentuh secar perasaan?
ibu dan aku sedang mengobrol di ruang tamu,ditemani dua gelas coklat panas. bulan ini ada dipenghujung musim penghujan,di luar langit sempurna mendung tidak memberikan celah sedikitpun pada bulan dan bintang untuk menghiasi langit,kilat menyambar susul-menyusul,guntur bergemeletuk memekakan telinga.
akhirnya gerimis mulai turun,tetes pertama jatuh membasahi ujung bunga bogenvil,membasahi daun-daun,membasahi genting rumah menghasilkan irama yang indah,mengajak katak-katak untuk keluar dari persembunyian dan ikut bernyanyi.
kami sedang mengobrol di ruang tamu,dua gelas coklat panas sudah lama habis hanya menyisakan dua gelas kosong. sementara di luar gerimis tetap enggan menderas. tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah kami,siapa? ini hampir jam sebelas malam lagi pula di luar sedang gerimis,siapa pula yang keluyuran malam-malam begini dan bertamu ke rumah kami?
siapa? melihat ibu yang kembali ke ruang tamu setelah membukakan pintu. ibu hanya menjawab pelan suaranya serak,aku sama sekali tidak bisa mendengarnya. langkahnya begitu lemah dan ada setitik embun di sudut matanya. aku terdiam,benar-benar terdiam...
siapa? ada yang mengikuti ibu dari belakang,berjalan sama lemahnya berjalan dengan tubuh dan pakaian yang basah.
siapa? berjalan dengan tubuh yang menggigil dan kaki yang gemetar.
siapa? berjalan dengan muka pucat menahan dingin,jari-jari yang keriput karena terlalu lama terkena air,menenteng sebuah pelastik hitam kacil.
ia sempurna mematung,terdiam menundukan kepala tak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri. hanya tubuhnya yang menggigil menandakan ada kehidupan di sana,air di tubuh dan pakaiannya mulai menetes membasahi lantai. ibu membawa handuk dan mengeringkan tubuh gadis itu.
gadis...? benar,ia seorang gadis kecil dengan rambut lusuh tubuh kurus dan kaki yang gemetar.
siapa namamu sayang? ibu bertanya denan suara lembut.
tak ada jawaban,hanya tangan kecilnya yang menjulur ke depan,memberikan sebuah bungkusan kaecil pada ibu. dan kami saling tatap tak mengerti apa maksudnya.
ini apa? ibu kembali bertanya.
untungnya kali ini ia mau menjawab,meski dengan pelan dan suara serak. begitu pelan,kalah dengan suara tetes air yang membasahi genting,kalah dengan nyanyian katak yang berkrok-krok di luar,bahkan kalah dengan suara hembusan angin. tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas... bahkan sangat jelas. kata-kata yang membuat dada ini sesak,tanganku gemetar dan kakiku lemas sudah.
saya mau menjual beras ini...
beras? ibu meraih kantong itu lantas membukanya,ada beras di dalamnya tak banyak hanya satu liter.
ia,ibu sedang sakit di rumah,uangnya buat beli obat...
entah mengapa pandangan mataku tiba-tiba kabur,seperti ada yang ingin tumpah dan keluar,aku tersentuh sudah...
berulang kali mendongakan kepala menahan air mata agar tidak tumpah,sejenak memandang ke langit-langit ada dua ekor cicak yang sedang mencuri dengar di sana.
lihatlah,seorang gadis kecil dengan tubuh yang basah dan menggigil berdiri di hadapan ku sakarang. tak pernah bisa terbayangkan,dimalam selarut ini ia hasus berlari membelah hujan berlari diantara tetes air,dikejar anjing penjaga,mengetuk dari pintu ke pintu berharap sebuah belas kasihan. tak peduli dengan dinginnya malam,tak peduli dengan baju yang basah,tak peduli dengn telapak kaki yang menginjak batu tajam. semua dilakukan demi seseorang yang terbaring lemah di rumah. dan lihatlah dia bahkan teramat kecil untuk mengerti semua kepedihan ini,hatinya teramat lemah untuk menahan semua kesakitan ini dan keadaanlah yang memaksanya untuk berani melawan semua kesulitan,memaksanya tumbuh lebih dewasa,lebih berani dan lebih memahami.
ambillah uang ini sayang,semoga ibumu lekas sembuh dan bawa saja berasnya kau dan ibumu lebih membutuhkannya dibanding kami.
ibu membelai rambut gadis itu mencium keningnya lantas memeluknya erat dan ia menangis. aku tahu meski sesungguhnya ibu mati-matian menahan tangisnya agar tidak terlihat oleh aku dan gadis kecil yang sekarang ada di pelukannya.
kau akan jadi anak yang hebat sayang,percayalah...
dan lagi-lagi aku harus mendongakan kepala demi mendengar kalimat ibu barusan.
ada setitik sinar harapan dimatanya,tubuhnya tak menggigil lagi,kakinya yang gemetar hilang sudah,melangkah mantap di jalan yang basah dan licin,rambutnya bergoyang ke kiri dan kanan mengikuti gerakan tubuhnya. berlari disela tetes air,berlari ditengah gerimis yang entah mengapa mulai menderas.
malam ini...aku menghela napas,berdiri termenung memandang siluet jalanan,gadis kecil itu sudah pamit lima menit yang lalau,bibirnya tersenyum tapi bayangan tubuhnya yang menggigil dan kakinya yang gemetar tak bisa hilang dari pikiranku.
ibu benar,ia akan jadi anak yang hebat suatu saat nanti...
mari kita renungkan baik-baik...!
kata-kata dan percakapan di atas boleh jadi fiksi. tapi kejadiannya benar-benar terjadi.
begitu banyak sekali persoalan di dunia ini,dan cerita di atas adalah salah satu contoh dari jutaan permasalahan. dan sayangnya sayah sendiri tidak tau harus berbuat apa atau harus mulai dari mana.
saya hanya bisa menuliskan cerita ini saja,berharap ada seseorang di luar sana yang membaca note ini terbuka hatinya tersentuh perasaannya untuk merubah keadaan ini. dan untuk kita yang hanya bisa termenung,berharaplah semoga ini bisa menjadi pelajaran yang baru,pemahaman yang baru,mau menyisakan ruang kecil di dalam hati,dan mari kita sebut dengan kamar "pemahaman yang baru"
ket: ada beberapa kalimat yang saya kutip dari buku-bukunya bang tere liye
dan terimakasih kepada abdurahman assy sharif atas insfirasinya untuk note kali ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar