Selasa, 06 November 2012

BERHIANAT

perasaan itu menggumpal,bertumpuk-tumpuk mengeras menjadi bulatan besar lantas pecah menjadi ribuan kata mengalir bersama darah melewati jantung,hati,paru-paru,kerongkongan tapi semuanya hilang saat tiba di ujung lidah. Hilang ketika siap diucapkan,mulutnya kelu sudah. Sama seperti kau menutup keran air terhenti seketika. Mulutnya berhianat atas perasaannya,menyisakan kesunyian... Benar-benar hanya kesunyian.

Berdiri dengan kaki bergetar,perasaannya berkecamuk tak bisa lagi ditahan. Berharap ada keputusan saat ini. Tapi entah kenapa lengannya tak mau bergerak,enggan menekan bell,enggan mengetuk. Seperti digantungkan berratus-ratus kg beban ditangannya. Perasaan ini sulit ditahan,malah berbalik lari menjauh. Melewati halaman,pagar rumah terus berlari membelah hujan dengan air mata yang tak bisa lagi ditahan. Kaki dan tangannya berhianat sudah.

Ruang keberangkatan bandara kota propinsi dipenuhi calon penumpang. Di sudut ini ia hanya bisa memandang dengan perasaan yang ahhh... Entah seperti apa lagi bentuknya saat ini. Di sudut yang lain dia yang selama ini memenuhi kehidupan sudah seperti hantu datang,pergi dan singgah lantas bermain-main di hati dan pikiranya dengan seenaknya. Berdiri dengan anggun bersanding dengan koper besar,tangan mungilnya sibuk memeriksa tiket,paspor dan surat-surat lainya. Lantas menarik napas lega saat tahu semuanya sudah siap. Kembali di sudut ini hanya bisa berdiri terpaku,seperti kau disuntik beku tak berdaya bahkan untuk mengedipkan mata sekalipun. Seluruh tubuhnya kompak berhianat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar